Di Balik Jeruji : Ali Khomeni Muda Mengagumi Bung Karno Sebagai Tokoh Anti Imperialisme

banner 468x60

Seorang tokoh abad ke-20 bernama Sukarno—yang akrab dipanggil Bung Karno dan dijuluki Putra Sang Fajar—kembali bergema dari tempat yang tak terduga: lorong sunyi penjara rezim Mohammad Reza Pahlavi di Iran. Dalam memoarnya Cell No. 14, Ali Khamenei mengenang masa mudanya sebagai tahanan politik dan menyebut Sukarno sebagai simbol besar perlawanan dunia terhadap imperialisme. Kisah singkat itu bukan sekadar nostalgia personal, melainkan fragmen sejarah yang memperlihatkan bagaimana gagasan anti-kolonial yang pernah diproyeksikan Indonesia ke panggung global mampu melampaui batas geografis, ideologi, bahkan dinding penjara—menjadikan nama Bung Karno tetap hidup sebagai inspirasi solidaritas bagi bangsa-bangsa yang menolak dominasi kekuatan besar.

Kisah itu bermula dari sebuah adegan sederhana di balik jeruji. Di sel penjara, Aku Khamenei muda berbagi jatah makanan dengan seorang aktivis komunis yang sakit dan kelaparan. Ketika sang rekan satu sel menyatakan dirinya ateis dan tidak percaya agama, Khamenei tidak menanggapinya dengan polemik teologis. Ia justru mengangkat satu nama: Soekarno.

Bagi Ali Khamenei muda, Soekarno adalah contoh bagaimana gagasan kemerdekaan dapat melampaui batas ideologi. Ia merujuk pada momentum bersejarah Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, ketika pemimpin dari berbagai latar belakang agama, ras, dan ideologi berkumpul untuk menyatakan penolakan bersama terhadap kolonialisme dan imperialisme.

Sejarah memang mencatat, Soekarno tampil sebagai salah satu motor utama konferensi tersebut. Bersama tokoh-tokoh seperti Jawaharlal Nehru, Gamal Abdel Nasser, dan Josip Broz Tito, ia merumuskan bahasa politik baru bagi negara-negara yang baru merdeka: solidaritas dunia selatan melawan dominasi kekuatan besar.

Dari Bandung pula lahir dinamika yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non-Blok—sebuah poros ketiga dalam peta dunia yang kala itu terbelah oleh rivalitas Blok Barat dan Blok Timur pada era Perang Dingin. Soekarno tidak sekadar memimpin negara baru, tetapi juga merumuskan identitas politik bagi Dunia Ketiga.

Kisah dari sel penjara Iran itu memperlihatkan dimensi lain pengaruh Soekarno. Ia tidak hanya dikenang sebagai presiden pertama Indonesia, tetapi juga sebagai simbol global perlawanan terhadap dominasi geopolitik. Nama Soekarno bahkan kerap muncul dalam refleksi tokoh-tokoh perjuangan dunia seperti Nelson Mandela, Yasser Arafat, hingga Che Guevara—mereka yang melihat Bandung sebagai inspirasi solidaritas internasional.

Soekarno Sang Proklamator Indonesia, namanya mampu mencairkan percakapan antara seorang ulama Islamis dan seorang aktivis komunis di dalam sel penjara menunjukkan daya jangkau gagasannya. Soekarno menempatkan kemerdekaan sebagai nilai universal—bukan milik satu ideologi, agama, atau blok politik tertentu.

Narasi itu sekaligus mengingatkan bahwa politik internasional tidak selalu digerakkan oleh kekuatan militer atau ekonomi semata. Ada kalanya sejarah bergerak oleh daya tarik gagasan—oleh kemampuan seorang pemimpin membangun imajinasi kolektif tentang dunia yang lebih merdeka.

Kini, ketika dinamika geopolitik kembali mengeras dan rivalitas kekuatan besar muncul dalam wajah baru, ingatan tentang Bandung memperoleh relevansi baru. Pesan yang dahulu disampaikan Soekarno tentang solidaritas bangsa-bangsa tertindas terasa kembali menemukan konteksnya.
Di balik jeruji penjara Iran, seorang pemuda bernama Ali Khamenei mengingat Soekarno sebagai simbol persatuan melawan imperialisme. Kisah kecil itu mengajarkan satu hal penting: gagasan besar tentang kemerdekaan, kedaulatan dan perdamaian memiliki umur yang jauh lebih panjang dari pada tembok penjara, rezim kekuasaan, bahkan generasi yang melahirkannya.

Pelajaran penting bagi generasi yang mencintai perdamaian namun lebih mencintai kemerdekaan adalah menjaga warisan diplomasi moral yang pernah diperagakan Sukarno di panggung dunia: membangun solidaritas bangsa-bangsa tertindas tanpa larut dalam logika kekuatan besar. Prinsip itu lahir dari semangat Konferensi Asia Afrika 1955 yang menempatkan kemerdekaan sebagai nilai universal, bukan alat legitimasi konflik geopolitik. Karena itu, kepemimpinan Indonesia masa kini semestinya meneladani keberanian Sukarno merawat politik luar negeri yang independen, bukan justru terkooptasi dalam pusaran rivalitas global yang mengubah forum perdamaian menjadi arena konfrontasi—dari Board of Peace yang idealnya menjaga stabilitas dunia, menjadi Board of War yang memperkeruh keadaan melalui eskalasi militer, termasuk serangan terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatullah Ali Khamenei (1939–2026)—sebuah tragedi yang menegaskan betapa rapuhnya komitmen internasional terhadap perdamaian ketika kepentingan geopolitik mengalahkan etika dan prinsip kemerdekaan bangsa-bangsa.

Demikian.

Penulis Adv. M. Taufik Umar Dani Harahap, SH., Merupakan Praktisi Hukum Dan Aktivis Gerakan Rakyat Banyak.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *