Fakta, Aktual dan Profesional

Ekoteologi: Antara Spiritualitas dan Aksi Nyata Peran ASN Dalam Menjaga Lingkungan

VALITO.CO | ASN sebagai penjaga amanah Ilahi dan penggerak bangsa. Dalam islam seluruh manusia memiliki fitrah yang sama, meskipun perilaku yang berbeda. Fitrah manusia yang paling esensial adalah penerimaan terhadap amanah untuk menjadi khalifah dan hamba Allah di bumi. Manusia secara potensial mempunyai sejumlah potensi bawaan seperti fitrah, bakat, minat, sifat dan karakter.

Pendidikan memproses untuk tumbuh, berkembang dan mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki. Jika kebudayaan islam tidak lagi dijunjung tinggi, sementara teknologi terus berkembang pesat, apa yang akan terjadi pada generasi mendatang?

Teknologi memang membawa kemudahan yang luar biasa, akses informasi yang cepat, komunikasi tanpa batas, bahkan kecerdasan buatan yang mampu membantu manusia dalam berbagai bidang. Namun, tanpa nilai dan budaya islam sebagai penuntun, kecanggihan itu bisa menjadi pedang diantaranya:
Generasi kehilangan jati diri. Mereka mahir dalam menggunakan gawai tetapi hampa nilai moral.

Ilmu tanpa akhlak. Teknologi bias melahirkan inovasi, tetapi bisa juga menjadi alat penyebar keburukan jika tidak dibingkai dengannilai islam.
Budaya asing merajalela. Dunia digital membuka pintu masuk budaya luar. Tanpa filter islam, generasi muda terbawa arus dan kehilangan jati diri.
Kehidupan menjadi hampa. Kemajuan materi tidak diimbangi spiritualitas, sehingga melahirkan kegelisahan degradasi moral.

Mewarisi budaya islam berati menanamkan nilai amanah, jujur, santun, cinta ilmu dan ukhuwah dalam setiap pemanfaatan teknologi. Dengan begitu generasi mendatang tidak hanya pengguna teknologi, tetapi juga pengendali dan pencipta teknologi yang beradab. Karena sesungguhnya, teknologi tanpa budaya islam hanya akan melahirkan generasi cerdas akal tetapi miskin jiwa. Sementara dengan budaya islam, teknologi akan menjadi cahaya yang menguatkan peradaban.

Tujuan pendidikan dalam islam harus berorientasi pada hakikat yang meliputi beberapa aspek misalnya tujuan dan tugas hidup manusia. Manusia diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah. Indikasi tugas berupa ibadah (sebagai ‘abd Allah) dan tugas sebagai wakilnya dimuka bumi (khalifah Allah) al-Qur’an dalam surahal-‘An’am ayat 162 menyebutkan“Sesungghnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan seru sekalian alam.”

Pengabdian seorang ASN dalam hidup bukan akhir dari sebuah cita-cita. Namun jauh sebelum itu ASN menjadi wasilah trasformasi generasi yang melibatkan nilai dan peran generasi. Pelayanan publik yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat dan penolakan terhadap berbagai bentuk penyalah gunaan wewenang dan kebijakan. ASN dituntun untuk memahami jati diri sebagai khalifah yang akan mengabdi sepenuh hati, menginspirasi, berkarakter tinggi, berjiwa moderat (Tawassuth) dalam bertindak, menghargai perbedaan, dan selalu mengutamakan persatuan serta kesejahteraan masyarakat diatas kepentingan kelompok dan pribadi. Keimanan menjadi sumber motivasi merawat bumi sebagai amanah Ilahi.

Jejak Sang Guru dan Stabilisasi Ekoteologi

Sebuah madrasah yang berdiri diujung batas negeri, Bireuen, Aceh. Seorang guru memulai menyapa peserta didik penuh haru, mengawali pagi membersamai dalam Fajar Ilmu, mereka biasa memanggilnya ibu Wardah.

Sebagai ASN, ia memilih jalur yang tak semua orang berdedikasi untuk negeri. Ia terus membersamai bersama pelita negeri dalam menoreh cita-cita sejati. Ia mengajar kalam Ilahi dengan teduh, mengajari huruf demi huruf bukan dengan lidah namun dengan segenap hati. Setiap ayat adalah ilmu dan do’a. Dia meyakini kesungguhan akan mewujudkan sebuah peradaban. Ia juga membimbing hadits tapi bukan sebagai hafalan tetapi cahaya bagi kehidupan dan teladan.

Setiap bacaan Al-Qur’an dan Hadits menjadi kompas moral dalam membumikan Al-Quran dan Hadits. Ia terus berjuang membumikan akhlak dan pendidikan karakter, merawat iman di tanah rencong, negeri para aulia yang dibangun atas dasar keberanian, ketauhidan dan kebijaksanaan. Warisan para raja yang menjaga marwah bukan hanya pemimpin kerajaan. Salah satu tokoh angung adalah Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang membangun Aceh menjadi kerajaan islam terkuat di Asia Tenggara.

Kegagahan para aulia dan para raja Aceh bukan hanya terukir di batu nisan dan sejarah namun masih hidup dalam jiwa masyarakat Aceh hari ini. Menjunjung tinggi martabat islam, keilmuan dan adat budaya. Kerajaan dan ulama berjalan beriring menjaga amanah Allah sebagai khalifah fil-ardh.
Dalam bimbingannya ia selalu menitik beratkan ruh pejuang Aceh dalam menguatkan karakter bangsa, merawat prinsip-prinsip ekologis untuk memahami hubungan antar agama dan alam juga menjaga alam serta isinya sebagai bentuk ibadah kepada Allah.

Langkah Kecil Menggentar Masa Depan

Dalam menghadapi krisis ekologi global, konsep Ekotelogi muncul sebagai jembatan antara kesadaran spiritual dan aksi nyata. Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekedar suber daya, melainkan memelihara amanah Allah. Menata kembali hubungannya dengan alam sebagai bagian dari penghambaan kepada sang Pencipta.

Sebagai pelopor perubahan ia membuat sebuah gagasan baru yang sederhana dalam program “Ikatan Santri Madrasah Menuju Transformasi Abad-21” Langkah kecil itu terus bergema, beralaskan iman berbekal ilmu dalam bingkai penguatan karakter. Para siswa di bimbing cabang ilmu lain yang dapat memenuhi indikator generasi insan kamil. Prioritas utama dalam bimbingan adalah Tahfidhul Qur’an dalam upaya mewujudkan generasi Qur’ani seiring dengan visi dan misi MIN 8 Bireuen.

Program ini 4 tahun telah berjalan meluluskan generasi penghafal Al-Qur’an melalui Tasyakur peserta didik setiap akhir tahun menjadi estafement kepemimpinan yang hakiki dalam wujud aksi generasi Qur’ani. Dengan aksi:
Membiasakan tilawah harian dengan membaca Al-Qur’an bersama melalui program Limit, Lima Menit Membaca Al-Qur’an.
Melaksanakan shalat dhuha berjamaah, bimbingan imam dan muazzin.

Program tahfidz dan muraja’ah dengan target hafalan perjenjang kelas dan muraja’ah bersama.
Adab sebagai prioritas, dengan membiasakan salam, senyum, sapa dan santun.
Pemamfaatan teknologi islami, dengan menggunakan aplikasi Qu’an digital dalam pembelajaran Al-Qur’an Generasi literasi Qur’ani dengan pojok Al-Qur’an
Kepedulian sosial berbasis Al-Qur’an dengan aksi infaq Jum’at seribu dan bakti sosial dan membantu teman dalam kesulitan belajar sebagai nilai ukhuwah.
Ekspresi seni islami dengan membentuk tim Nasyid berlandaskan Al-Qur’an dan pentas seni Qur’ani.

Geraka Fajar ilmu, sebagai simbul kebangkitan spritual dan intelektual yang dimulai dari titik waktu terbaik. fajar sebagai seruan untuk memulai hari dengan ilmu, cahaya dan nilai-nilai Qur’ani. Gerakan ini mendorong guru, siswa, orang tua dan masyarakat untuk:
Menumbuhkan semangat belajar sejak awal hari.
Menjadikan ilmu sebagi bentuk ibadah dan pengabdian.
Menanamkan akhlak, hikmah dan keteladanan sejak dini.
Menghidupkan budaya literasi yang berakar pada nilai-nilai islam.
Menghadapi perkembangan pendidikan abad 21.

Smart Speaking (english and arabic), melatih peserta didik berbahasa arab dan bahasa Inggris
Dengan aksi nyata ini, generasi Qur’ani di madrasah tidak hanya pandai membaca dan menghafal Al-Qur’an tetapi juga mengaktualisasikan akhlak Qur’ani dalam sikap sehari-hari.

Salam ASN: Menata Generasi Dengan Hati.

Allah menciptakan bumi dan mengamanahkan manusia sebagai khalifah (QS. Al-Baqarah: 30). Maka menjadi ASN yang mendidik adalah menjadi penjaga bumi dan menguatkan karakter genersi penerus yang cinta tanah air sejati. Kami beraksi mewujudkan generasi Qur’ani, meninggalkan jejak literasi.

Penulis : Wardah, S.Pd.I, M. Ag
Guru Al-Quran Hadits pada MIN 8 Bireuen, Aceh, Kemenag RI

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *