Manusia yang ingin menjadi tuhan. Itulah inti dari semua kejahatan besar di muka bumi. Bukan sekadar korupsi, narkoba, atau judi online. Itu semua hanyalah gejala. Penyebab utamanya adalah sombong, merasa dirinya paling kuasa, paling benar, dan tidak ada yang mampu menandinginya.
Fir’aun adalah contoh paling klasik. Ia berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24). Apa yang dilakukan Fir’aun? Ia mengatur rakyatnya sesuka hati, mengambil hak mereka, membunuh siapa pun yang melawan. Ribuan tahun berlalu, tapi jiwa “Fir’aun” itu tidak pernah mati. Ia hanya berganti kostum.
Sekarang, mari kita telanjangi “tuhan-tuhan palsu” zaman now ini:
Siapa “Tuhan-Tuhan Palsu” Itu?
1. Koruptor Kelas Kakap: Ia merasa berkuasa atas uang negara. Ia bisa menentukan nasib proyek, menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati secara ekonomi. Ia seenaknya mengambil milik rakyat karena merasa “negara ini milik saya, rakyat ini bodoh”. Itu adalah sikap ketuhanan: merasa memiliki segalanya.
2. Bandar Narkoba dan Mafia Judol: Mereka bermain dengan nyawa manusia. Mereka tahu produk mereka menghancurkan masa depan anak muda, menghancurkan keluarga, tapi mereka tetap melakukannya. Mengapa? Karena mereka merasa berkuasa atas kelemahan manusia. Mereka seperti setan yang menggoda, lalu tertawa melihat korbannya hancur. Itu adalah sikap ketuhanan: merasa berhak menghancurkan ciptaan Tuhan.
3. Aparat Nakap yang Melindungi Mereka: Mereka yang seharusnya menjadi benteng keadilan, justru menjadi tameng. Mereka bersekutu dengan para perusak. Ini adalah sikap ketuhanan: merasa bisa memutarbalikkan kebenaran, merasa hukum bisa dibeli, merasa keadilan adalah milik mereka yang punya uang.
Mengapa Mereka Bisa “Menjadi Tuhan” dan Kelihatan Kebal?
Karena mereka membangun kerajaan kecil mereka sendiri. Di dalam kerajaan itu:
· Mereka punya “Malaikat Pencatat” palsu: Media yang bisa mereka bayar untuk membungkam atau memutarbalikkan fakta.
· Mereka punya “Hukum” versi mereka sendiri: Aparat dan pengacara nakal yang bisa membuat keadilan menjadi tumpul.
· Mereka punya pasukan: Preman, oknum, dan orang-orang yang mereka beri makan dari uang haram.
Mereka menciptakan ilusi bahwa mereka adalah penguasa yang tak tersentuh. Dan ilusi ini berhasil karena kita seringkali hanya melihat dari luar, melihat kekuatan mereka yang tampak nyata.
Tapi Ada Satu “Tuhan” yang Tak Pernah Tidur
Inilah ironi terbesar para “tuhan-tuhan palsu” ini. Mereka sibuk membangun kerajaan fana, melupakan satu hal: Mereka tetaplah manusia. Dan manusia, setinggi apa pun kekuasaannya, tetaplah makhluk yang lemah di hadapan Allah.
Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“Keagungan adalah sarung-Ku, dan Kesombongan adalah selendang-Ku. Barangsiapa merebut salah satu dari keduanya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya ke dalam Neraka.” (HR. Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah)
Mereka yang “ingin menjadi tuhan” di dunia ini sedang menarik selendang dan sarung Allah. Dan Allah Maha Sabar. Tapi ketika Dia mulai menarik kembali “selendang” itu, lihatlah apa yang terjadi pada Fir’aun. Tenggelam di laut yang justru dia belah. Ditonton oleh jutaran malaikat dan manusia.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan Menghadapi “Tuhan-Tuhan Palsu” Ini?
Kita tidak bisa melawan mereka dengan “menjadi tuhan tandingan”. Itu akan jadi pertarungan ego yang tak berujung. Yang bisa kita lakukan adalah:
1. Ingatkan Mereka Bahwa Mereka Manusia: Caranya, jangan pernah diam. Jangan pernah berhenti menyuarakan kebenaran. Setiap kali kita membongkar kasus korupsi, setiap kali kita melaporkan judi online, setiap kali kita menolak suap, kita sedang menempelkan cermin di wajah mereka dan berkata, “Kau manusia biasa yang akan mati dan dimintai pertanggungjawaban.”
2. Perkuat Tali Allah, Bukan Tali Mereka: Jangan takut pada kekuatan mereka. Takutlah pada Allah yang kekuasaan-Nya tak terbatas. Dengan iman yang kuat, rasa takut pada “tuhan-tuhan kecil” itu akan sirna.
3. Jangan Biarkan Mereka Sendirian: Para koruptor dan bandar bisa kuat karena mereka bersekutu. Kita, rakyat biasa, juga harus bersekutu. Bersatu dalam kebaikan, bersatu dalam menolak kejahatan, bersatu di bilik suara untuk memilih yang terbaik.
Kenyataan memang pahit. Melihat orang sombong dan jahat berkuasa itu menyakitkan. Tapi ingatlah akhir kisah Fir’aun. Saat nyawa sampai di tenggorokan, di ambang tenggelam, ia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain yang dipercayai Bani Israil.” (QS. Yunus: 90).
Di saat-saat terakhir, semua topeng ketuhanan itu jatuh, dan yang tersisa hanyalah seorang hamba yang ketakutan. Kita mungkin tidak akan melihat kehancuran mereka di dunia, tapi kita yakin, di pengadilan yang Maha Abadi, mereka tidak akan bisa mengelak.(ZAI)










