Krisis Rupiah Buat Gaji Rp3,2 Juta Tak Cukup, Sementara Iran Masih Punya Sisa untuk Hidup

(Foto: Masyarakat Iran yang sangat bahagia meskipun para musuhnya Iran terus menindas.)
banner 468x60

Sebuah perbandingan ekonomi menyoroti realitas keras yang dihadapi keluarga berpenghasilan rendah di Indonesia. Dengan gaji setara 200 dolar AS (sekitar Rp3,2 juta), keluarga di Iran masih memiliki ruang keuangan, sementara di Indonesia, angka yang sama sudah langsung mengalami defisit untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

“Inilah perbedaan mendasar yang sering tidak dipahami,” tulis sebuah analisis yang beredar di media sosial. Analisis tersebut menjelaskan bahwa di Iran, yang mahal adalah barang impor dan mewah, sementara kebutuhan hidup relatif terjangkau. Sebaliknya, di Indonesia, dengan gaji yang sama, kebutuhan hidup justru menjadi beban yang mahal.

Perbandingan Anggaran: Iran vs. Indonesia

Analisis ini membandingkan anggaran bulanan untuk keluarga sederhana dengan penghasilan setara $200.

🇮🇷 Situasi di Iran

· Penghasilan: 280 juta rial (asumsi kurs).
· Pengeluaran Inti:
· Energi (bensin, gas, listrik): ~6 juta rial
· Pangan dan kebutuhan rumah tangga: ~129,5 juta rial
· Sewa rumah & internet: ~54 juta rial
· Total Pengeluaran: ~189,5 juta rial
· Sisa untuk tabungan/hiburan: ~90,5 juta rial.

Meski Iran tengah menghadapi tekanan ekonomi luar biasa dengan inflasi yang diperkirakan tetap di atas 40% pada 2026 dan nilai tukar rial yang terus merosot hingga disebut mendekati nol, struktur subsidi dalam negeri untuk energi dan pangan pokok masih menyisakan ruang napas bagi penduduk berpenghasilan rendah.

🇮🇩 Situasi di Indonesia

· Penghasilan: Rp3,2 juta (asumsi kurs $1 ≈ Rp16.000).
· Pengeluaran Inti:
· Pangan, listrik, air, internet: ~Rp2,36 juta
· Kontrakan sederhana & bensin 60 liter: ~Rp1,5 juta
· Total Pengeluaran Minimal: ~Rp3,86 juta.
· Kekurangan (Defisit): Rp660.000.

Defisit ini terjadi sebelum menghitung biaya sekolah anak, kesehatan, cicilan, atau tabungan. Keluarga harus memangkas pengeluaran non-esensial, seperti mengurangi makan di luar dan berlangganan layanan streaming, untuk bertahan hidup.

Akar Masalah: Inflasi vs. Stagnasi Pendapatan

Perbedaan nasib kedua negara ini berakar pada penyebab krisis yang berbeda:

· Iran: Tekanan Eksternal dan Inflasi Tinggi. Kelesuan ekonomi dan protests besar-besaran yang dimulai akhir 2025 dipicu oleh inflasi yang tidak terkendali, sanksi internasional yang semakin ketat, dan jatuhnya nilai tukar mata uang. Inflasi harga pangan pernah menembus 70% pada 2025. Demonstrasi saat ini dinilai sebagai yang paling luas sejak 2022.
· Indonesia: Stagnasi Pendapatan dan Pelemahan Rupiah. Daya beli masyarakat tergerus terutama karena pendapatan yang mandek, bukan semata-mata karena inflasi barang. Pelemahan rupiah yang mencapai rekor terendah baru-baru ini (mendekati Rp17.000 per dolar) memperparah keadaan dengan meningkatkan harga barang impor, termasuk bahan pangan.

Reaksi Pemerintah dan Dampak ke Depan

🇮🇷 Iran
Pemerintah Iran telah mengganti gubernur bank sentral dan mengumumkan sistem subsidi baru untuk membantu rumah tangga membeli barang-barang pokok. Namun, kondisi diperkirakan tetap sulit dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi negatif pada 2025 dan 2026.

🇮🇩 Indonesia
Pakar ekonomi menyerukan agar pemerintah fokus pada penciptaan lapangan kerja yang berkualitas dan mendorong investasi sektor padat karya untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Tanpa upaya ini, beban akan terus ditanggung konsumen.

Dengan rupiah yang masih lemah dan tekanan global yang berlanjut, tahun 2026 menjadi tantangan berat bagi daya beli masyarakat Indonesia, sementara rakyat Iran berjuang di tengah krisis yang lebih kompleks akibat isolasi internasional.

Sumber: akun fb Ismail Amin

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *