MUSDA VII KAHMI MEDAN: ZULCHAIRI PAHLAWAN DORONG PENGUATAN SILATURAHMI, KONSOLIDASI, DAN SINERGI ALUMNI

banner 468x60

Valito.co | MEDAN — Musyawarah Daerah (Musda) VII Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Medan yang dijadwalkan berlangsung pada 19–20 September 2026 dinilai harus menjadi momentum konsolidasi organisasi, bukan sekadar kontestasi memperebutkan kursi Ketua Umum. Pandangan itu disampaikan Adv. Zulchairi Pahlawan, S.H., salah seorang kandidat Ketua Umum MD KAHMI Medan periode 2026–2031.

Menurut Zulchairi, Musda merupakan forum penting untuk mengevaluasi perjalanan kepengurusan sebelumnya, merumuskan rekomendasi program kerja, sekaligus menentukan arah kepemimpinan KAHMI Medan lima tahun mendatang. Karena itu, seluruh rangkaian Musda semestinya berlangsung dalam suasana kekeluargaan, demokratis, bermartabat, dan tetap menjaga tradisi intelektual alumni HMI.

“Musda bukan sekadar mencari siapa yang menang. Yang lebih penting adalah menentukan ke mana KAHMI Medan akan dibawa lima tahun ke depan,” ujar Zulchairi. Ia menilai perbedaan pilihan dalam kontestasi kepemimpinan merupakan hal wajar dalam organisasi, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk memutus silaturahmi dan meninggalkan luka setelah Musda berakhir.

Bagi Zulchairi, silaturahmi merupakan fondasi utama KAHMI sebagai rumah besar alumni HMI. Perbedaan generasi, profesi, latar belakang, maupun pilihan politik tidak semestinya menghilangkan ikatan sebagai keluarga besar HMI. Prinsip persaudaraan itu, menurut dia, sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam QS. Al-Hujurat ayat 10 tentang persaudaraan dan pentingnya mendamaikan perselisihan.

Ia juga menekankan pentingnya konsolidasi alumni secara lebih substantif. Konsolidasi, kata Zulchairi, tidak boleh berhenti pada pertemuan dan kegiatan seremonial, tetapi harus mampu menghubungkan potensi alumni di berbagai sektor, mulai dari hukum, pendidikan, birokrasi, dunia usaha, kewirausahaan, sosial-kemanusiaan hingga advokasi kebijakan publik.

“Alumni HMI memiliki modal sosial, intelektual, profesi, dan jaringan yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi itu disinergikan menjadi kekuatan yang memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya. Dalam kerangka itu, KAHMI Medan perlu membangun jejaring kerja yang produktif sekaligus membuka ruang kolaborasi antargenerasi.

Zulchairi juga menilai konsolidasi KAHMI tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan HMI sebagai sumber kaderisasi. KAHMI, menurut dia, tidak cukup hanya menikmati hasil perkaderan HMI, tetapi harus ikut menjaga keberlangsungan proses kaderisasi. Alumni perlu memberikan mentorship, akses, jaringan, dan ruang pengembangan, sementara kader HMI membawa idealisme, energi perubahan, serta gagasan-gagasan baru.

Selain konsolidasi, evaluasi kepengurusan menjadi agenda penting dalam Musda. Evaluasi, kata Zulchairi, harus dilakukan secara objektif dan terukur. Apa yang telah berhasil perlu dipertahankan, program yang belum tercapai harus diperbaiki, sedangkan kegiatan yang tidak lagi relevan perlu dievaluasi. “Evaluasi bukan untuk mencari kesalahan atau membangun stigma terhadap pengurus sebelumnya. Evaluasi adalah cara organisasi belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Untuk periode 2026–2031, Zulchairi menegaskan bahwa kepemimpinan MD KAHMI Medan harus diletakkan sebagai amanah, bukan privilese. Karena itu, tata kelola organisasi harus diperkuat melalui transparansi program dan anggaran, kepatuhan terhadap AD/ART, pengambilan keputusan yang demokratis, serta mekanisme pertanggungjawaban yang dapat dibaca dan diawasi oleh seluruh alumni.

Ia menawarkan gagasan agar KAHMI Medan bergerak lebih jauh dari sekadar forum silaturahmi menuju organisasi yang menghadirkan manfaat nyata. Sejumlah agenda yang dinilai relevan antara lain penguatan Klinik Hukum Rakyat, pendidikan paralegal, kajian kebijakan publik, pemberdayaan ekonomi, pengembangan kewirausahaan, penguatan jejaring profesi, serta pendampingan dan pengembangan kapasitas kader HMI.

Menurut Zulchairi, KAHMI Medan juga harus mampu mengambil posisi sebagai kekuatan moral dan intelektual dalam menjawab berbagai persoalan Kota Medan. Persoalan kemiskinan, pendidikan, hukum, lingkungan, tata ruang, pelayanan publik, dan ekonomi rakyat membutuhkan kontribusi alumni yang kritis sekaligus konstruktif. “KAHMI harus hadir bukan hanya ketika ada kepentingan organisasi, tetapi ketika masyarakat membutuhkan gagasan, pembelaan, dan solusi,” katanya.

Zulchairi menegaskan visi menjadikan KAHMI Medan sebagai rumah besar alumni yang berintegritas, berkeadilan, dan berkontribusi nyata harus diterjemahkan ke dalam kerja organisasi yang terukur. Baginya, rumah besar berarti tidak ada alumni yang dipinggirkan; integritas berarti amanah dan transparan; keadilan berarti berpihak pada kebenaran dan kepentingan masyarakat; sedangkan kontribusi nyata berarti keberadaan KAHMI dapat dirasakan manfaatnya. Karena itu, Musda VII diharapkan menjadi titik tolak untuk memperkuat silaturahmi, konsolidasi, dan sinergi alumni. Siapa pun yang dipercaya memimpin, kata Zulchairi, harus menyadari bahwa kepemimpinan bukan penghargaan personal, melainkan amanah yang pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan kepada organisasi, masyarakat, dan Allah SWT.

Demikian.

Rilis berita disampaikan Steering Committee pada struktur pemenangan Zulchairi Pahlawan, S.H., sebagai Kandidat Ketua Umum MD KAHMI Medan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *