Sutan Kasayangan Harahap: Guru Pribumi yang Mendidik Bangsa Menuju Indonesia Merdeka

banner 468x60

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh para jenderal di medan perang atau politisi di ruang parlemen. Bangsa juga dibangun oleh para guru yang bekerja dalam senyap, menanamkan kesadaran, membentuk cara berpikir, dan melahirkan generasi yang kelak memperjuangkan kemerdekaan. Di antara tokoh pendidikan pribumi yang memiliki peran penting tetapi kurang mendapat perhatian dalam historiografi nasional adalah Sutan Kasayangan Soripada Harahap. Sosok yang lahir dengan nama Rajiun Harahap ini merupakan salah satu intelektual bumi putra pertama dari Tapanuli yang berhasil menembus dunia pendidikan Eropa dan kemudian mengabdikan seluruh hidupnya untuk mencerdaskan rakyat serta membangun kesadaran kebangsaan Indonesia.

Sutan Kasayangan lahir pada 30 Oktober 1874 di Batu Nadua, Padang Sidempuan, wilayah yang pada akhir abad ke-19 dikenal sebagai salah satu pusat lahirnya elite intelektual pribumi di Sumatera. Ia berasal dari keluarga terhormat. Kakeknya, Patuan Soripada, merupakan Kepala Kuria Batu Nadua, sebuah jabatan administratif penting dalam struktur pemerintahan lokal masa kolonial. Latar belakang keluarga ini memberinya akses terhadap pendidikan yang pada masa itu hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang pribumi. Ketika sebagian besar rakyat Indonesia masih terkungkung dalam buta huruf akibat politik kolonial yang diskriminatif, Rajiun Harahap memperoleh kesempatan memasuki dunia pendidikan modern.

Pendidikan yang ditempuhnya di Kweekschool Padang Sidempuan menjadi titik awal perjalanan intelektual yang luar biasa. Kweekschool pada masa itu merupakan lembaga pendidikan guru yang dirancang pemerintah kolonial untuk mencetak tenaga pendidik bumiputra. Namun dalam praktiknya, sekolah-sekolah semacam ini justru melahirkan generasi intelektual yang kemudian menjadi pengkritik kolonialisme. Dari lembaga inilah Sutan Kasayangan menyerap ilmu pengetahuan modern sekaligus memahami ketimpangan sosial yang diciptakan sistem penjajahan Belanda.

Pada tahun 1904, ia berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan. Langkah ini sangat langka bagi seorang pribumi pada masa itu. Di negeri penjajah, ia menempuh pendidikan guru di Haarlem selama satu tahun sembilan bulan. Keberangkatannya ke Eropa bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan juga perjalanan intelektual yang mempertemukannya dengan gagasan modern tentang kebangsaan, demokrasi, dan kemerdekaan. Dalam konteks sejarah Indonesia, pengalaman belajar di Belanda menjadi faktor penting yang membentuk kesadaran politik generasi awal pergerakan nasional.

Kemampuan akademiknya membuat ia di percaya menjadi asisten Prof. Charles Adriaan van Ophuijsen, salah satu orientalis dan ahli bahasa Melayu terkemuka Belanda. Posisi ini menunjukkan kualitas intelektual Sutan Kasayangan yang diakui bahkan oleh kalangan akademik Eropa. Ia terlibat dalam pengajaran Bahasa Melayu, sejarah Indonesia, Islam, serta berbagai aspek sosial budaya Nusantara. Disaat banyak orang Eropa mempelajari Indonesia sebagai objek kolonial, Sutan Kasayangan justru hadir sebagai subjek yang menjelaskan bangsanya sendiri kepada dunia Barat.

Tidak berhenti di sana, ia melanjutkan pendidikan Hoofdacte selama tiga tahun, sebuah jenjang pendidikan guru tingkat tinggi yang sangat prestisius pada masa itu. Setelah itu ia mengajar Bahasa Melayu di sekolah dagang di Rotterdam dan Haarlem. Fakta ini memperlihatkan bahwa kemampuan intelektual kaum pribumi sesungguhnya tidak kalah dibandingkan bangsa Eropa. Namun sejarah kolonial sering kali mengaburkan kontribusi tokoh-tokoh seperti Sutan Kasayangan karena narasi yang dominan lebih banyak menonjolkan peran administratur kolonial dibandingkan intelektual bumiputra.

Yang paling penting, Sutan Kasayangan termasuk tokoh awal yang berperan dalam membangun jaringan mahasiswa dan intelektual Indonesia di Belanda. Ia dikenal sebagai salah satu perintis organisasi yang kemudian berkembang menjadi Perhimpunan Indonesia. Organisasi ini kelak menjadi wadah lahirnya pemikiran nasionalisme modern Indonesia. Dari organisasi inilah muncul gagasan bahwa perjuangan kemerdekaan harus dilakukan atas nama bangsa Indonesia, bukan lagi berdasarkan identitas kesukuan atau kedaerahan. Pemikiran tersebut menjadi fondasi ideologis yang kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya seperti Mohammad Hatta dan Ali Sastroamidjojo.

Sekembalinya ke Hindia Belanda, Sutan Kasayangan mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Antara tahun 1913 hingga 1917, ia mengajar di Bukittinggi dan Ambon dengan cakupan mata pelajaran yang sangat luas, mulai dari matematika, ilmu ukur, sejarah, botani, biologi, fisika, geografi hingga bahasa. Fakta ini menunjukkan bahwa guru pada masa itu bukan sekadar pengajar spesialis, melainkan intelektual yang menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan modern. Melalui ruang kelas, ia menanamkan cara berpikir rasional dan kesadaran kritis kepada generasi muda pribumi.

Kariernya berlanjut sebagai asisten J.H. Nieuwenhuis dan Dr. D.A. Rinkes pada periode 1917–1918. Kedua nama tersebut merupakan ilmuwan dan administrator kolonial yang memiliki pengaruh besar dalam studi masyarakat Indonesia. Keterlibatan Sutan Kasayangan dalam lingkungan akademik tersebut menunjukkan bahwa dirinya berada di persimpangan penting antara dunia ilmu pengetahuan dan dunia pergerakan nasional. Ketika akhirnya bertugas di Dolok Sanggul pada tahun 1922 sebagai guru, ia tetap konsisten menjalankan misi pendidikan sebagai alat pembebasan pribumi dari keterbelakangan.

Pada akhirnya, sayang seribu kali sayangnya, nama Sutan Kasayangan Harahap belum memperoleh tempat yang proporsional dalam sejarah nasional Indonesia. Padahal, jika ditelaah secara objektif, ia merupakan bagian dari generasi awal intelektual yang menjembatani dunia pendidikan modern dengan lahirnya kesadaran kebangsaan Indonesia. Ia bukan panglima perang, bukan pula pemimpin partai politik besar, tetapi kontribusinya berlangsung pada level yang lebih fundamental: membangun manusia Indonesia yang mampu berpikir merdeka. Karena itu, pesan Presiden Soekarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, menemukan relevansinya disini. Melupakan Sutan Kasayangan berarti melupakan salah satu mata rantai penting yang menghubungkan pendidikan, intelektualisme, dan lahirnya Indonesia merdeka. Dalam sejarah bangsa, kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan mereka yang mengangkat senjata saja, tetapi juga buah dari kerja panjang para guru yang memberikan kesadaran kritis pada masyarakatnya tentang arti dari bangsa yang merdeka serta mengangkat harkat dan martabat manusia melalui ilmu pengetahuan.

Demikian.

Penulis Adv.Muhammad Taufik Umar Dani Harahap, SH., Praktisi Hukum Dan Anggota Perkumpulan Marga Harahap Sejagat Raya (MAHAJAYA)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *